Diary

Tulisan

Postingan Terbaru

Kasus First Travel, kok gak di demo?

06.09 Add Comment


Akhir-akhir ini beredar berita penipuan yang dilakukan oleh perusahaan pelayan umrah/haji, first travel. Bagaimana tidak, ratusan calon jama'ah haji/umrah yang ditipu oleh perusahaan tersebut. Dari permasalahan tersebut, kemudian banyak komentar dari netizen dengan mengait-ngaitkan dengan aksi bela Islam yang sebelumnya digelar. Ada yang mengatakan yang bunyinya kira-kira seperti ini: "kok hanya kasus Ahok saja yang didemo, sedangkan kasus first travel kagak?"
Saya hanya tertawa setelah membaca komentar-komentar yang bunyinya seperti diatas. Kenapa? Pertama, secara tidak langsung mereka mengakui bahwa apa yang dilakukan Ahok adalah salah. Karena mereka menyamakan kasus ahok dengan kasus first travel, sama-sama harus didemo. Kedua, terlihat mereka yang berkomentar seperti itu adalah mereka yang masih sakit hati dengan demo yang ditujukan kepada Ahok, sehingga mereka nyinyir dengan masalah ini.
Sekedar penjelasan, kenapa tidak ada yang demo mengenai kasus first travel sedangkan pada kasus ahok didemo? Karena dimana-mana demo itu dilakukan oleh orang yang posisinya dibawah menuntut kepada yang diatasnya. Contohnya, demo yang dilakukan masyarakat atas kezaliman pemerintah. Demo yang dilakukan mahasiswa terhadap pihak rektorat yang menaikkan biaya kuliah. Ataupun demo yang dilakukan buruh atas kesewenang-wenangan para atasan perusahaan tersebut.
Terus, bagaimana dengan kasus first travel? First travel itu hanyalah sebuah perusahaan, sehingga tidak memungkinkan untuk didemo oleh orang biasa yang tidak ada kaitannya dengan perusahaan tersebut. Orang-orang biasa tidak memiliki hak untuk berdemo, kecuali jika seandainya perusahaan tersebut tidak memberi gaji anak buahnya, maka wajar jika ada orang-orang demo, itupun dilakukan oleh pegawainya.

Kasus First Travel, kok gak di demo?
Oleh : Fachrul Rozi
28 Agustus 2017

Indonesia Terbalik

04.30 Add Comment

Ada suatu hal yang menarik di acara sea games tahun ini (2017), yaitu pihak panitia (malaysia) membuat gerang masyarakat indonesia. Bagaiamana tidak, bendera indonesia dibuat terbalik, menjadi putih merah.
Saya adalah salah satu diantara sekian banyaknya masyarakat Indonesia yang marah. Namun saya maafkan karena pihak panitia sendiri sudah meminta maaf Namun sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang masih memendam amarah kepada malaysia.
Saya sedikit bingung, kenapa marahnya sampai segitu, bahkan dikabarkan adanya hacker Indonesia yang meretas situs milik malaysia yang memasang bendera malaysia secara terbalik. Jika mereka sudah meminta maaf, ya kita maafkan. Memang ini masalah harga diri bangsa, tapi jika mereka sudah meminta maaf, kenapa kita masih terus marah? Apakah harus angkat senjata?
Sebenarnya saya sendiri merasa memang keadaan Indonesia sendiri memang sedang terbalik. Dan saya merasa kejadian terbaliknya bendera Indonesia merupakan adzab dari Allah SWT. Bagaimana tidak, kebenaran dianggap salah dan kejahatan dianggap benar.
Mari sedikit kita tengok keadaan negara ini. Para ulama ingin memperjuangkan keadilan, malah dianggap makar. Sedangkan di sulawesi beberapa bulan lalu masyarakat membawa senjata ke bandara untuk menyerang anggota dpr (Fahri Hamzah, pro umat Islam), namun hanya dianggap oknum belaka dan masalahnya cepat selesai.
Begitu juga dengan pembakaran mesjid di Tolikara, Papua, pembakarnya diundang ke Istana negara. Namun berbeda dengan buni yani, penyebar video penistaan agama oleh Ahok, namun ditangkap dan dijebloskan di penjara. Padahal apa yang dilakukannya adalah mengungkapkan kejahatan.
Ada juga masalah tenaga kerja Cina. Masa pengangguran yang masih melimpah ruah di negeri ini namun malah mengundang tenaga impor? Kan aneh? Terus para pribumi pengangguran tersebut mau makan apa? Batu?
Ada juga masalah baru-baru ini, yaitu mengenai impor garam. Katanya stok garam mau habis. Mendengar berita ini benar-benar membuat saya ketawa, laut luas gini malah nganggap beras mau habis, trus yang berwarna biru di peta itu apa pak
Semoga masalah ini cepat selesai dan Allah memberikan pemimpin yang lebih baik kedepannya untuk indonesia, aamiin.

Indonesia Terbalik
Oleh: Fachrul Rozi
27 Agustus 2017

Sertifikasi Khatib

15.51 Add Comment




Sertifikasi Khatib
Oleh : Fachrul Rozi
07 Feburuari 2017

Ada suatu hal yang menarik yang sedang hangat diperbincangkan oleh orang-orang, terutama dikalangan ustad-ulama, yaitu mengenai sertifikasi khatib. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh menteri agama, Lukman Hakim pada :
http://nasional.kompas.com/read/2017/01/31/09033951/menteri.agama.wacanakan.program.sertifikasi.khatib.shalat.jumat .
Mungkin sejenak kita berpikir bahwa ide ini sungguh sangat mulia, karena dengan adanya sertifikasi khatib maka otomatis orang-orang yang menjadi khatib merupakan orang-orang pilihan yang telah disaring dalam proses sertifikasi. Para khatib yang telah mendapatkan sertifikat maka khatib tersebut sudah benar-benar teruji.
Pendapat diatas tidak bisa kita katakan salah, namun tidak bisa juga kita katakan benar. Karena, dengan adanya sertifikasi khatib, maka otomatis para khatib tersebut harus sesuai dengan pemahaman orang-orang yang memberi sertifikasi tersebut. Diasumsikan, jika yang menguji calon-calon khatib tersebut merupakan seorang NU, maka dapat dipastikan hanya akan ada sedikit orang-orang Muhammadiyah yang lolos pada proses sertifikasi tersebut, karena bedanya pemahaman. Sedangkan kita tahu bahwa di negeri ini sangat banyak berkembang ormas-ormas Islam dengan pemahaman yang berbeda, dan kita juga tidak tahu golongan mana yang paling benar.  Jika hal tersebut terjadi, maka dapat dipastikan perpecahan antar golongan akan semakin besar.
Adanya sertifikasi khatib juga pastinya akan membatasi setiap orang untuk menjadi khatib, sedangkan dalam Islam sendiri, selama orang tersebut merupakan seorang Muslim baligh dan berilmu, maka dia diperbolehkan menjadi khatib.
Hal lain yang menjadikan sertifikasi khatib tersebut  dianggap bahaya oleh sebagian ulama adalah adanya intervensi dan pengekangan yang bisa saja dilakukan pemerintah dalam jum'atan ini. Pemerintah akan mengontrol jalannya shalat jum'at sehingga dapat dipastikan bahwa para khatib akan takut mengkritisi pemerintah, karena jika mengkritisi pemerintah, maka bisa jadi sertifikat khatibnya akan dicabut.



Sumber gambar :
https://www.google.co.id/search?q=stempel+original&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj70p6Fy_zRAhWFv48KHdaDCjsQ_AUICCgB&biw=1366&bih=662#imgrc=_z83DCBfXKa1yM:

Ketika Islam Bersatu

02.56 Add Comment


Ketika Islam Bersatu

Oleh: Fachrul Rozi

Jika kita mengamati lebih jauh, Islam di Indonesia berpecah belah, jurang pemisah yang besar, dan adanya chauvinisme (kecintaan yang besar pada satu kelompok dan menganggap rendah kelompok lainnya). Lihat saja, bagaimana hubungan Muhammadiyah dan NU, PKS dan Hizbut Tahrir, dan lainnya.
Apa yang menyebabkan perpecahan diantara ormas-ormas Islam diatas? Penyebab utama perpecahan tersebut adalah politik. Masing-masing ormas ingin memiliki pengaruh besar dimasyarakat. Namun satu hal yang sering dilupakan oleh mereka, adalah ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan).
Ada ilmu yang dapat kita petik dalam film India yang berjudul 3 idiot. Ketika hendak ujian, Rancho melakukan 2 hal yang membuat dia peringkat pertama ketika ujian, yaitu belajar untuk meningkatkan kualitas, dan menjatuhkan nilai mahasiswa lain dengan menganggu konsentrasi belajar mereka. Semuanya sepakat bahwa cara pertama yang dilakukan Rancho adalah tindakan yang positif, namun berbeda dengan cara keduanya yang merupakan tindakan negatif, karena ini termasuk menghalalkan segala cara.
Dari penjelasan diatas, itulah gambaran yang terjadi saat ini dalam diri ormas Islam di Indonesia ini. Selain menonjolkan diri dengan meningkatkan kualitas, namun juga mempengaruhi masyarakat dengan membicara-bicarakan kekurangan dari ormas lainnya. Padahal Rasulullah SAW. sendiri mengatakan bahwa kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan menjatuhkan lawan.
Mungkin diantara kita banyak yang bertanya, kenapa harus banyak kelompok? Kenapa tidak satu kelompok saja? Banyaknya kelompok Islam dikarenakan masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Kemudian orang-orang yang memiliki pandangan yang sama membentuk sebuah kelompok agar apa yang dicita-citakan dapat dengan mudah terwujud.
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah, bahwa Allah SWT. menciptakan perbedaan karena perbedaan itu indah. Coba kita renungkan sejenak, jika ormas-ormas Islam di Indonesia bersatu dan membagi-bagi tugas, pasti Islam di Indonesia ini akan sangat kuat dan harmonis. Misalnya, Muhammadiyah dengan banyak amal usahanya membantu mencerdaskan umat dengan sekolah-sekolahnya, membangun mesjid, rumah sakit, ekonomi, serta amal-amal usaha lainnya. Jama'ah Tabligh menghimbau masyarakat agar mencintai mesjid. Nahdatul Ulama yang hebat dalam berzikir mengajak umat untuk senantiasa berzikir. FPI dengan nahi mungkarnya menjadi polisi umat. PKS yang juga merupakan sebuah partai Islam memperjuangkan hak-hak Islam dalam ranah perpolitikan. Jika hal tersebut terjadi, maka dikemudian hari, Khilafah yang selalu digembor-gemborkan oleh HTI akan lebih mudah terwujud. Bagaimana dengan ormas lainnya? mereka juga punya fungsi masing-masing. Ataupun ormas-ormas yang multi-fungsi dan ada dua atau lebih ormas yang memiliki gerakan dan cita-cita yang sama, bisa bahu-membahu sehingga apa yang di inginkan dapat lebih mudah terwujud.
Berbeda pandangan tidak apa-apa, tapi jangan jadikan perbedaan sebagai jurang pemisah. Bertukar pikiran disunahkan, namun merendahkan tidak boleh.




Sumber Gambar:
https://www.google.com/search?q=mui&client=firefox-b-ab&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiq7pPd3a_RAhXLvo8KHYHvBHAQ_AUICigD&biw=1366&bih=659#tbm=isch&q=ormas+islam&imgrc=pF1hQaxldZkd4M%3A

Antara Islam dan Media

04.47 Add Comment


Antara Islam dan Media
Oleh : Fachrul Rozi

Media yang dimaksud disini adalah media sekuler. Dari berbagai kasus yang ditayangkan di televisi ataupun di kebanyakan media mainstream lainnya, ada satu hal yang menarik jika kita memperhatikan berita-berita yang disiarkan tersebut. Hal-hal tersebut adalah hal-hal yang menghilangkan kebanggaan umat Islam, menyebar berita hoax, ataupun berita yang berat sebelah.
Akhir-akhir ini, di media nasional banyak memberitakan mengenai Intoleransinya umat Islam, seperti : fatwa haram MUI mengenai pengucapan selamat natal, pelarangan memilih pemimpin yang non muslim, dan yang terbaru adalah mengenai kasus ulama besar habib Riziq yang “katanya” menista agama lain. Media sekuler pun dengan penuh semangatnya meliput hal tersebut. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ahok yang jelas-jelas menista agama, namun ajaibnya media bungkam untuk hal tersebut.
Adapun kasus lainnya adalah kasus yang sangat familiar di telinga kita.  Ya, teroris, sebuah kelompok radikal yang kerjanya meneror orang, membunuh, dan membom tanpa perasaan. Jika kita perhatikan dari berita-berita yang disampaikan, entah kenapa hampir semuanya yang disampaikan adalah teroris-teroris yang berjenggot, atau teroris-teroris yang katanya para pejihad Islam. Banyak teroris-teroris yang diliput dan katanya mereka beragama Islam, seperti : Nurdin M Top, Amrozi, Osama bin Laden, dan kasus yang menimpa Perancis beberapa bulan yang lalu. Contoh sederhana, pada kasus pemboman yang menimpa Perancis beberapa bulan yang lalu tampak sekali mereka menyerang Islam. Pihak kepolisian Perancis mengatakan bahwa ditemukan passpor seorang Suriah di lokasi pemboman, dan dengan semangatnya mereka mengatakan bahwa pelaku bom tersebut adalah orang suriah tersebut. Satu  hal yang aneh dari kasus ini adalah “teroris mana yang selalu membawa identitas kemana-mana? Dan kenapa passpor nya tidak terbakar karena ledakan?”. Sungguh ini skenario yang amatir. Logikanya, jika umat muslim adalah teroris, pastinya yang banyak dibombardir adalah non muslim. Nyatanya, malah umat muslim yang paling banyak di bombardir, seperti di : Palestina, Suriah, Myanmar, Irak, dan Afrika. Merekalah teroris yang sebenarnya, namun sekali lagi, media bungkam untuk hal tersebut.
Masih banyak kasus lainnya yang dilakukan oleh media-media sekuler, Seperti : tidak diliputnya Musa sebagai hafidz cilik yang diakui di kancah Internasional, memperkecil suara umat muslim ketika Aksi Bela Islam 212, melakukan fitnah terhadap aksi 411, membesar-besarkan pendukung Ahok, serta hal-hal lain yang tak terhitung jumlahnya.
Mungkin diantara kita yang belum begitu tau politik akan bertanya, “apa salahnya media melakukan hal tersebut?”, maka jawabannya sangat sederhana, yaitu : “Jika kita, umat Islam memiliki kebanggaan, maka kita akan kuat. Namun, jika kita tidak memiliki kebanggaan, maka kita akan lemah”. Kebanggaan inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam, sehingga mereka tidak mau meliput (ataupun mau meliput, hanya sebagian kecil, dan itupun terkadang dimanipulasi) segala sesuatu yang dapat menambahkan kebanggaan dalam diri umat Islam, karena mereka sadar, eksistensi mereka akan pudar jika umat Islam bangkit.
Terakhir saran dari saya, belajarlah untuk membaca dari berbagai sumber berita, karena semakin banyak sumber berita yang dibaca, maka semakin besar pulalah kemungkinan kebenaran berita tersebut. Selain hal tersebut, perhatikan juga sumber berita yang dibaca agar tidak mudah terkecoh. Namun banyak juga media-media yang menamakan dirinya menggunakan nama-nama yang kelihatan islami, itu bisa jadi jebakan batman agar pembaca mudah tertipu. Oleh karena itu, pelajarilah setiap kata yang dibaca, apakah sesuai atau selaras dengan berita-berita yang kita percayai yang pernah kita baca atau tidak. Satu lagi, jangan pernah taqlid (mempercayai sesuatu tanpa mengecek kebenarannya) dan jangan fanatik (tidak mau mendengar pendapat orang lain).



Sumber Gambar :
https://www.google.co.id/search?q=media&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiIqpe74aXRAhUeTo8KHUQcC4sQ_AUICCgB&biw=1366&bih=662#tbm=isch&q=media+anti+islam&imgrc=RiROHvYbykc1ZM%3A

Ketika Anak Menjawab

03.13 Add Comment

Ketika Anak Menjawab
Oleh : Fachrul Rozi

Seorang bapak bertanya kepada anaknya, “apa yang kau pelajari hari ini, nak?”
Sang anak menjawab,

kami diajari bahwa pemerintah tidak pernah salah,
Kami diajari bahwa kemiskinan terjadi karena kesalahan mereka sendiri,
Kami diajari bahwa kejahatan terjadi karena penjahat itu sendiri,
Mereka tidak tahu, bahwa pemerintah berperan dalam hal itu.

Kami diajari bahwa tentara tidak mudah mati,
Kami diajari bahwa pemerintah hebat menghadapi masalah,
Kami diajari bahwa dampak dari perperangan tidak begitu besar,
Mereka tidak tahu, betapa kacaunya negara.

Kami diajari bahwa kapitalis dianggap biasa,
Kami diajari bahwa pedagang kecil gulung tikar karena kesalahannya sendiri.
Kami diajari bahwa teroris terjadi dengan sendirinya,
Mereka tidak tahu, banyak teroris yang dibuat oleh negara.




Sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=anak&espv=2&biw=1366&bih=613&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwii8LyHg6HRAhVIsI8KHdVDAJsQ_AUIBigB#tbm=isch&q=anak+bapak&imgrc=i9qRsePpeyqDqM%3A

Catatan Akhir Tahun Kehidupan Beragama 2016

03.12 Add Comment


Catatan Akhir Tahun Kehidupan Beragama 2016
Oleh : Dr. H. Okrizal Eka Putra, Lc., M.Ag (PP Muhammadiyah)

Semenjak aksi 411 dan 212, Banyak dari kalangan ahli yang beropini akan terjadi sesuatu di Indonesia kedepannya. Salah satunya, kedua aksi ini mengajarkan kepada para kapitalis betapa hebatnya kekuatan rakyat. Diantara sekian banyak opini yang beredar, beberapa diantaranya sebagai berikut :
1. Kemungkinan 2020 khilafah akan bangkit dan berdiri di Indonesia
Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wa Sallam pernah bersabda bahwa setelah runtuhnya kekhilafahan Islam, maka 100 tahun kemudian Islam akan kembali kepada kejayaannya. Jika dihitung menggunakan sistem penanggalan hijriah, 100 tahun setelah tahun 1924 M (runtuhnya kekhilafahan utsmani) adalah tahun 2020. Banyak dari kalangan muslim yang beranggapan kejayaan Islam pada tahun 2020 nanti kekhilafahan akan berdiri kembali. Adapun sebagian orang beranggapan negara yang dimaksud kemungkinan adalah Indonesia.
Hal ini dikarenakan, selain merupakan berpenduduk muslim terbesar di dunia, aksi 212 kemungkinan merupakan aksi terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Aksi Bela Islam 3 yang dihadiri oleh sekitar 7,4 juta jiwa (dihitung menggunakan google earth) juga dihadiri oleh orang-orang islam di belahan dunia lainnya. Masa aksi ini bahkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masa orang yang naik haji.
Selain itu, Indonesia juga merupakan negara yang aman, jika dibandingkan dengan negara-negara timur tengah lainnya, tambahnya.
2. Pada tahun 2017 ini akan terjadi beberapa hal di Indonesia, diantaranya :
a)   Sidang Ahok bakal larut. Hal ini sengaja dilakukan agar Ahok tetap bisa mengikuti pilkada dibulan februari mendatang. Adapun hal yang paling ditakuti oleh umat Islam adalah, jika seandainya ahok menang dalam persidangan nanti, maka seluruh umat Islam maupun ormas Islam (termasuk MUI) harus meminta maaf kepada Ahok. Selain itu, kemungkinan terbesar yang akan terjadi adalah Ahok meminta agar ormas-ormas Islam dibubarkan, karena telah melakukan pencemaran nama baik.
b)   Kemungkinan Syi’ah dan Komunis akan semakin merajalela. Hal ini dikarenakan, Syi’ah masih belum di ilegalkan oleh pemerintah. Komunis pun akan semakin merajalela karena saking banyaknya pendatang-pendatang Cina yang bekerja di Indonesia.
c)   Melemahnya kapitalisme. Hal ini dipicu oleh maraknya pemboikotan roti “sari roti”. Selain itu, juga banyak ajakan untuk membangun ekonomi umat dengan berbelanja di warung-warung / toko-toko umat Islam, dan meninggalkan minimarket yang pemiliknya bukan orang Islam. Ormas-ormas Islam pun juga akan membangun banyak minimarket, seperti pembangunan Al-Maidah Mart. Selain itu, juga akan dibangun channel TV yang bernuansa Islam, mengingat betapa pentingnya televisi dalam kehidupan.
d)   Adanya pelemahan MUI di mata masyarakat. Dibuktkan semenjak tahun 2015, MUI tidak mendapatkan kucuran dana dari pemerintah. Selain itu, kemungkinan MUI akan dibubarkan karena telah berbuat makar jika seandainya Ahok dinyatakan tidak bersalah dipersidangan nanti.



Saturday Morning Fresh - 31 Desember 2016, Universitas Ahmad Dahlan.


Sumber Gambar :
https://www.google.co.id/search?q=212&espv=2&biw=1366&bih=662&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjHoJHS_aDRAhVEwI8KHf9vArMQ_AUIBigB#tbm=isch&q=foto+aksi+212&imgrc=lHqhSifSyKvbSM%3A